Pengujian dampak telah berkembang pesat sejak penemuannya sekitar tahun 1905, menjadi bagian yang sangat diperlukan dalam pengujian kinerja material. Awalnya, terdapat berbagai metode pengujian, namun seiring kemajuan, pengujian dampak takik kunci Charpy, pengujian dampak takik Charpy V-, dan pengujian dampak takik Charpy-McClover menjadi terkenal. Sebelum tahun 1968, Amerika Serikat terutama menggunakan uji dampak takik kunci Charpy. Namun, metode ini memiliki kelemahan: karena takiknya yang tumpul, suhu transisi getas ditentukan lebih rendah daripada suhu patah getas struktur. Oleh karena itu, setelah tahun 1968, standar ASTM mengadopsi spesimen standar Charpy V-notch. Oleh karena itu, penggunaan spesimen tumbukan V-notch dan McClover lebih umum. Secara umum, Eropa dan Amerika sebagian besar menggunakan Charpy-notch, sedangkan Rusia menggunakan spesimen Charpy-McClover.
Uji dampak di negara saya hampir tidak ada sebelum berdirinya Republik Rakyat Tiongkok. Setelah pembebasan, Tiongkok sepenuhnya mengadopsi model Soviet, dan standar pengujian dampak pertama, GB229-1963, baru diterbitkan pada tahun 1963. Standar terbaru yang kami gunakan adalah GB/T229-2020, "Bahan Logam - Metode Uji Pendulum Charpy," yang juga berlaku untuk standar Amerika dan Eropa. Prinsip mesin uji tumbukan didasarkan pada hukum kekekalan energi, menghitung energi tumbukan berdasarkan jumlah yang hilang setelah pendulum mematahkan benda uji tumbukan. Namun, metode pengujian ini secara inheren memiliki kelemahan: tidak seperti mesin pengujian tarik, metode ini tidak dapat secara langsung menampilkan kurva gaya-perpindahan. Sebab, hasil pengukurannya hanya berupa energi tumbukan, satuan energi yang diukur dalam joule. Rumus energinya adalah: W=FS, yakni Energi Dampak=Gaya * Perpindahan. Oleh karena itu, setiap perubahan pada salah satu variabel tersebut akan menyebabkan perubahan energi tumbukan, khususnya perpindahan. Dengan demikian, nilai energi tumbukan tidak dapat secara langsung menunjukkan ketangguhan suatu material atau menggambarkan perubahan material selama tumbukan; itu hanya bisa berfungsi sebagai referensi. Untuk mengatasi masalah ini, metode pengujian dampak berinstrumen diciptakan.







